Jumat, 07 Oktober 2011

sal Mula Adanya Padi

Dikutip dari : Buletin Kebudayaan Jabar (Kawit)
Oleh : Ronny Ardiwijaya

Tersebut pada zaman itu di Taman Sorga Loka, Sunan Ibu kedatangan "Dewi
Sri Pohaci Long Kancana" yang melaporkan bahwa di Buana Panca Tengah
belum terdapat "Cihaya" berupa sesuatu kebutuhan hidup para umat, yang
ada baru berupa "Nur Muhammad". Mendengar hal tersebut, Sunan Ibu
menitahkan agar Dewi Sri Pohaci Long Kancana berangkat ke Buana Panca
Tengah.

Dalam seyogianya Dewi Sri Pohaci Long Kancana tidaklah berkeberatan
untuk berangkat ke Buana Panca Tengah asalkan kepergiannya ditemani
Eyang Prabu Guruminda. Permohonan Sang Putri pun dikabulkan oleh Sunan
Ibu.Sebelum berangkat meninggalkan Sorga Loka, Eyang Guruminda duduk
bersemedi memohon petunjuk Hiang Dewanata. Setelah selesai semedi dan
memperoleh petunjuk, dengan kesaktiannya yang hanya dalam waktu sekejap
sang Putri berubah bentuk menjadi sebuah telur.

Setelah semua persiapannya selesai, maka berangkatlah Eyang Guruminda
mengiring Dewi Sri Pohaci Long Kancana dengan tujuan Negara Buana Panca
Tengah, yang disimpan dalam sebuah Cupu Gilang Kencana. Prabu Guruminda
setelah beberapa lama terbang ke setiap penjuru
utara-selatan-barat-timur yang pada akhirnya pada suatu ketika Cupu
Gilang Kencana terbuka dan "telur" di dalamnya pun terjatuhlah.

Sudah menjadi kersaning Sang Dewata, telur yang terjjatuh tadi jatuh di
suatu tempat yang mana tempat itu dihuni oleh Dewa Anta. (Cirebon
sekarang?). Dewa Anta yang mengetahui di tempat bersemayamnya ada telur,
ta ayal lagi maka telur itu pun dieraminya. Setelah beberapa waktu
lamanya telur dalam eraman Dewa Anta menetas dan lahirlah seorang putri
yang sangat cantik.
Dalam kedewasaannya dengan paras yang sangat cantik yang akhirnya
tersiar berita ke seluruh negri dan berdatanganlah ratu-ratu kerajaan
pada zamannya dengan maksud akan meminangnya untuk dijadikan permaisuri.

Dewi sri pohaci Long Kencana memperoleh pinangan dari para ratu ini
bukanlah menjadikan hatinya senang karena bila ia menerima pinangan
berarti ia telahmengingkari niatnya dan amanat yang telah dibebankan
kepadanya. Kepada setiap ratu pun telah dijelaskan bahwa maksud
pengembaraannya itu bukan semata-mata untuk mencari bakal suami, namun
untuk mengemban amanat dari Sang Hiang Widi di Sorga Loka yaitu untuk
menganugerahkan "CIHAYA" kepada negara gelar Buana Panca Tengah. >>

Walau penjelasn telah disampaikan namun pinangan terus-menerus
berdatangan juga dan oleh karenanya pada akhirnya Dewi Sri Pohaci Long
Kencana menderita tekanan bathin dan jatuh sakit. Lama kelamaan sakitnya
semakin parah dan tibalah suatu saat Sang Putri menyampaikan amanat
terakhir "Nanti bila saatnya tiba dan bila kelak aku sudah disemayamkan,
akan terdapat suatu keanehan-keanehan pada pusaraku". Hendaknya
diperhatikan pada pusaraku; pada bagian "larangan" kelak akan tumbuh
"pohon enau", sedang pada bagian "puser" akan tumbuh bermacam-macam
tumbuhan dan pada bagian kepala akan tumbuh "pohon kelapa". Dan akhirnya
dengan kehendak Sang Hiang Widi, Putri antik pun tilemlah.
Benarlah apa yang diamanatkan oleh Sang putri adalah menjadi kenyataan.
Dikisahkan pada suatu hari, ada kakek-nenek pencari kayu yang seperti
biasanya pada hari-hari tertentu mencari kayu bakar dan sekedar mencari
bahan makanan untuk bekal hidupnya berdua.

Suatu ketika kakek dan nenek mendapatkan sebuah pusara yang telah
ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang belum pernah ditemui dan dilihatnya
selama ini. Seperti apa yang telah diwasiatkan terdahulu bahwa pada
bagian "larangan" tumbuh pohon enau dan pada bagian kepala tumbuh pohon
kelapa. Namun pada bagian sekitar pusernya tumbuh bermacam-macam
tumbuhan dan tepat pada "puser'nya tumbuh suatu tanaman yang sangat aneh
dan belum pernah selama ini kakek dan nenek menemukannya dan baru kali
ini melihatnya. Adalah serangkai tumbuhan berdaunan bagus berbuah masih
hijau berbulu bagus pula.

Timbul niatnya untuk memeliharanya dan dibersihkannya sekitar tumbuhan
tersebut. Demikian dari hari ke hari minggu ke minggu dengan penuh
kesabaran dan ketekunan tumbuhan itu dipeliharanya. Tak terasa waktu
berjalan terus hingga menjelang bulan ke 5, buah yang hijau tdi telah
buncit berisi, sehingga buah yang setangkai itu merunduk karena
beratnya. Dengan penuh kesabaran dan keyakinan lagi pula ingin
mengetahui sampai di mana dan apa sebenarnya tumbuhan yang aneh itu.
Setelah beberapa lama menjelang bulan ke 6 ditengoknya kembali tumbuhan
tersebut dan ternyata butir-butir buah tadi berubah menjadi kuning
sangat indah nampaknya.
Setelah keduanya termenung maka timbullah niat untuk memetiknya.
Sebelum dipetik buah tadi dicicip terlebih dahulu dan ternyata isinya
putih dan semu manis rasanya. Kakek dan nenek menyiapkan dupa beserta
apinya untuk membakar kemenyan untuk memohon izin kepada Hiang Widi.
Selesai upacara membakar kemenyan, ditebaslah tumbuhan yang dimaksud dan
alangkah terkejutnya kakek dan nenek itu karena pada tangkai yang
dipotong tadi mengeluarkan darah bening serta harum *) namun bagi kakek
dan nenek tidaklah menjadi penyesalan karena disadarinya bahwa kejadian
ini sudah menjadi kehendak yang kuasa. Dan sudah bening serta harum
pulalah yang dijadikan kemenyan.

Namun timbul kemudian niatnya untuk menanamnya kembali dan butir-butir
buah tadi ditanamnya kembali sekitar pusara tadi. Keajaibannya pun
terjadi kembali karena dengan seketika itu pula butir-butir tadi tumbuh
dan sudah berbuah kuning pula. Kakek dan nenek langsung menbasnya pula
dan ketika itu pulalah ditaburkannya butir-butir kuning itu demikina
terus kejadian itu terulang sehingga terkumpullah ikatan butir-butir
buah kuning banyak sekali.
Atas kejadian ini kakek dan nenek menjadi bingung karenanya, memperoleh
hasil sangat berlimpah dalam waktu sekejap. Dari asal buah setangkai.
Lagi pula apa yang mereka miliki belum tahu apa dan buah apa gerangan
terlebih namanya pun belum ada.

Demikian, karena kakek dan nenek dalam kebingungan bahkan belum mendapat
keputusan untuk memberinya nama. Sehingga tiba-tiba nenek mengusulkan
bahwa berhubung kakek dan nenek selalu bingung tidak bisa ada keputusan
dan sukar untuk memilih, yang dalam bahasa Sundanya disebut "paparelean"
lebih baik buah ini kita sebut "pare" saja, demikian yang pada akhirnya
tumbuhan serta buahnya tadi diberi nama "Pare".

Tidaklah keberatan kiranya penulis di sini sedikit menganalisa atas
terjadinya nama "Pare". Pertama, mungkin karena ada kata "paparelean"
asal dari dua suku kata yaitu "papar" yang artinya "jelas", "maparkeun"
yang artinya menjelaskan, atau menegaskan, serta diambil dari kata
"Alean" (Sunda) yang artinya "milih" sehingga gabungan dari dua suku
kata awal yang mengandung dua makna yaitu "Par" da "e" pada elean
sehingga menjadi kata "Pare". >>

Kedua, mungkin asal kejadian dari kata "Alean" itu sendiri yang artinya
memilih. Umpamanya saja kami ambilkan contoh dari kata "pilih" bisa jadi
"milih" - marilih - "Parilih". Sehingga dalam kata "Alean" pun (kata
Sunda buhun) bisa terjadi perubahan bentuk menurut kebutuhan menjadi
pang"marelean"keun-di "perelean" yang kemudian hasil dari "marilih" tadi
disebut "PARE".

Demikian hingga sekarang di tatar Sunda yang dimaksud Nagara Buana Panca
Tengah, hingga kini tumbuhan serta buahnya yang dimaksud disebut "PARE",
yang merupakan cita-cita Dewi Sri Pohaci Long Kancana untuk kelengkapan
hidup yang disebut "CIHAYA". ***
copy right : mistiksunda.com





Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Jawa Barat
Awal Mula Terjadinya Pawukon (zodiak Jawa)


Ketika Batara Guru mendengar bahwa Raja Gilingwesi akan naik ke Suralaya, segera memanggil para dewa. Ditawarkan kepada mereka siapakah yang berani menghadapi Prabu Watu-Gunung, namun tidak ada satu pun diantara para dewa yang berani. Sanghyang Narada menyarankan agar Batara Guru memanggil Batara Wisnu, putranya, dan dijanjikan, jika mampu mengalahkan Prabu Watu-Gunung kesalahannya dimaafkan dan dosanya dihapuskan. Batara Guru menerima saran tersebut, maka diutuslah Sanghyang Narada turun ke bumi menemui Batara Wisnu yang sedang bertapa di bawah pohon beringin tujuh. Kesepakatan didapat, bahwa Batara Wisnu sanggup menghadapi Raja Gilingwesi, tetapi ia mohon diijinkan kembali kenegaranya untuk menemui istrinya yang waktu dirinya diusir atas perintah Batara Guru isterinya sedang mengandung. Waktu itu, sebelum Batara Wisnu meninggalkan istrinya, ia berpesan:

“Jika nanti anak tersebut lahir laki-laki, berilah nama Srigati.”

Tentunya jika anak tersebut selamat sekarang telah menjadi jejaka, karena belasan tahun sudah Batara Wisnu bertapa. Betapa gembiranya Batara Wisnu mendapatkan anak dan istrinya dalam keadaan baik dan sehat. Setelah sejenak mereka saling melepas rindu, batara Wisnu memberitahukan bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama karena harus segera ke Suralaya, ada perintah mendesak dari Batara Guru untuk menghadapi Raja Gilingwesi. Bambang Srigati menyatakan diri ingin ikut ayahnya ke Suralaya, namun Batara Wisnu tidak memperbolehkan.

Dengan berat hati batara Wisnu pamit meninggalkan istri dan anaknya, menemui Sanghyang Narada di bawah tujuh pohon beringin. raden Srigati yang ditinggal tersebut menyusul ayahnya. Sesampainya di beringin tujuh, ia duduk di belakang Sanghyang Narada. Setelah mengetahui putranya menyusul, Batara Wisnu berkeinginan mengajak Raden Srigati ke Suralaya. Tetapi Sanghyang Narada tidak memperbolehkan, dikhawatirkan dapat membangunkan murkanya Batara Guru. Akhirnya Srigati ditinggal di bawah beringin tuju. namun secara diam-diam Raden Srigati mengikuti perjalanan Sanghyang Narada dan Batara Wisnu. Setelah sampai di Suralaya dan menghadap Batara Guru, tiba-tiba Raden Srigati telah duduk dibelakang ayahandanya. Ketika melihat ada pemuda tampan, Batara Guru bertanya kepada Sanghyang Narada, siapakah anak muda tampan tersebut. Sanghyang Narada memberitahukan bahwa ia anak Batara Wisnu yang lahir dari rahim putri di Mendang. Mendengar jawaban Sanghyang Narada, Batara Guru sangat murka, ia berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Melihat gelagat yang tidak baik, Sanghyang Narada menyusul Batara Guru. Perintah baru dititahkan, Sanghyang Narada, diminta untuk membunuh Raden Srigati, sebagai tumbal negara, dan memerintahkan batara Wisnu segera menghadang musuh.

Namun sebelum perintah Batara Guru itu terlaksana, diluar terdengar suara gemuruh bersamaan datangnya musuh. Batara Guru gemetar ketakutan, minta pertimbangan kepada Sanghyang Narada, bagaimana sebaiknya. Sanghyang Narada menyarankan agara batara Guru membatalkan niatnya untuk membunuh Raden Srigati. Karena hal tersebut akan membuat Batara Wisnu tidak mau perang menghadang musuh, dengan demikian musuh akan dengan leluasa dapat merusak Suralaya. Batara Guru menuruti saran Sanghyang Narada, dan memutuskan tidak jadi membunuh Raden Srigati. dan segera memerintahkan Batara Wisnu untuk menghadapi musuh.

Batara Wisnu bersama dengan anaknya keluar dari tempat para dewa untuk menghadapi raja Gilingwesi. Setelah berhadap-hadapan dengan prabu Watu-Gunung, sang raja menawarkan perang dengan cara cangkriman (teka-teki). Jika Batara Wisnu dapat menebak cangkrimannya, Prabu Watu-Gunung dengan sukarela menyediakan diri untuk dibunuh. Tetapi jika Batara Wisnu tidak dapat menebak cangkriman, para dewa di Suralaya segera menyerah, dan menyerahkan para bidadari untuk diambil isteri.

Batara Wisnu menuruti apa yang di kehendaki Prabu Watu-Gunung. Maka sang raja membeberkan cangkrimannya. Ada sebuah pohon kecil tetapi buahnya besar dan ada pohon besar tetapi buahnya kecil, pohon apakah itu? Cangkriman tersebut di tebak oleh Batara Wisnu. Bahwa pohon yang kecil besar buahnya adalah pohon semangka. Sedangkan pohon yang besar kecil buahnya adalah pohon beringin. Sang raja tidak mampu berkata-kata, seperti janjinya ia menyerahkan dirinya. Batara Wisnu melepaskan senjata Cakra, dan Prabu Watu-Gunung tewas di medan perang. Balatentara yang berjumlah besar melarikan diri meninggalkan Suralaya.

Sepeninggalnya prabu Watu-Gunung, Dewi Sinta menangis berkepanjangan, hatinya sangat bersedih. Dampak dari kesedihan Dewi Sinta para dewa di Suralaya gelisah hatinya, mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Dan hal tersebut bakal mendatangkan huru-hara besar. Batara Guru bertanya kepada Sanghyang Narada, apa yang menyebabkan gara-gara ini. Sanghyang Narada memberitahukan bahwa penyebabnya adalah menangisnya Dewi Sinta karena bersedih atas meninggalnya Prabu Watu-Gunug. Batara Guru lalu memerintahkan kepada Sanghyang Narada untuk turun menemui Dewi Sinta agar mau menghentikan tangisnya, dan dijanjikan dalam tiga hari Prabu Watu-Gunung akan dihidupkan lagi, dan menjadi raja kembali di Negara Giling-Wesi. karena janji itu Dewi Sinta menghetikan tangisnya, dan saat itu juga sasana di Suralaya menjadi tenang kembali.

Namun setelah sampai tiga hari, Prabu Watu-Gunung tidak kelihatan datang, Dewi Sinta nangis kembali, dan mendatangkan kegelisahan dan kekacauan yang lebih besar di Suralaya. Batara Guru bertanya lagi kepada Sanghyang Narada apa penyebabnya gara-gara ini. Sanghyang Narada berkata bahwa gara-gara ini disebabkan oleh hal yang sama yaitu tangis Dewi Sinta, kareana sudah tiga hari Prabu Watu-Gunung belum kembali ke negara Gilingwesi. Kemudian Batara Guru memerintahkan Sanghyang Narada, untuk menghidupkan Prabu Watu-Gunung, serta mengembalikan di negara Gilingwesi.

Setelah Prabu Watu-Gunung dihidupkan oleh Sanghyang Narada, disuruh kembali di Gilingwesi, ia tidak mau, dikarenakan sudah kerasan di surga. Bahkan Prabu Watu-Gunung memohon agar kedua isterinya dan ke 27 anak di angkat ke surga, menjadi satu dengannya. Guru mengabulkan permohonan tersebut, serta memerintahkan agar mengangkat isteri dan anak Prabu Watu-Gunung ke surga.

Proses pengangkatan dua isteri serta 27 anak Prabu Watu-Gunung ke surga dilakukan satu persatu pada setiap minggu. Inilah permulaan adanya 30 wuku yang dijadikan dasar perhitungan Pawukon atau zodiak Jawa.

Tulisan selanjutnya akan dibeberkan satu persatu gambar dan ciri perwatakan dari masing-masing wuku sebanyak 30







Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Jawa
Kancil dan Kura-kura.

Kancil dan kura-kura sudah lama bersahabat. Pada
suatu hari mereka pergi menangkap ikan disebuah danau.
Berjumpalah mereka dengan seekor kijang. Kijang
ingin ikut. Lalu mereka pergi bertiga.

Sampai disebuah bukit mereka bertemu dengan seekor
rusa. Rusa juga ingin ikut. Segera rusa bergabung
dalam rombongan. Dalam perjalanan, disebuah lembah
berjumpalah mereka dengan seekor babi hutan. Babi
hutan menayakan apakah ia boleh ikut. "Tentu saja,
itu gagasan yang baik, daripada hanya berempat lebih
baik berlima," jawab kura-kura.

Setiba di bukit yang berikutnya, berjumpalah mereka
dengan seekor beruang. Lalu mereka berenam
melanjutkan perjalanannya. Kemudian mereka bertemu
dengan seekor badak. "Bagaimana kalau aku ikut,"
tanya badak. "Mengapa tidak?", jawab semua. Bahkan
lalu bergabung pula seekor banteng.

Kali berikutnya rombongan kancil bertemu dengan seekor
kerbau yang akhirnya ikut serta. Begitu pula ketika
mereka bertemu dengan seekor gajah. Demikianlah,
mereka bersepuluh berjalan berbaris beriringan
mengikuti kancil dan akhirnya mereka sampai ke danau
yang dituju. Bukan main banyaknya ikan yang berhasil
ditangkap. Ikan kemudian disalai dengan mengasapinya
dengan nyala api sampai kering.

Keesokan harinya, beruang bertugas menjaga ikan-ikan
ketika yang lainnya sedang pergi menangkap ikan.
Tiba-tiba seekor harimau datang mendekat. Tak lama
kemudian beruang dan harimau terlibat dalam
perkelahian seru. Beruang jatuh pingsan dan ikan-ikan
habis disantap harimau.

Berturut-turut mereka kemudian menugasi gajah,
banteng, badak, kerbau, babi hutan, rusa dan kijang,
semuanya menyerah. Sekarang tinggal kura-kura dan
kancil yang belum terkena giliran menunggu ikan.
Kura-kura dianggap tidak mungkin berdaya menghadapi
harimau, maka diputuskanlah kancil yang akan menjaga.

Sebelum teman-temannya pergi menangkap ikan,
dimintanya mereka mengumpulkan rotan
sebanyak-banyaknya. Lalu masing-masing dipotong
kira-kira satu hasta. Tak lama kemudian tampak kancil
sedang sibuk membuat gelang kaki, gelang badan, gelang
lutut dan gelang leher. Sebentar-sebentar kancil
memandang ke langit seolah-olah ada yang sedang
diperhatikannya. Harimau terheran-heran, lalu
perlahan-lahan mendekati si kancil. Kancil pura-pura
tidak mempedulikan harimau.

Harimau bertanya, "Buat apa gelang rotan
bertumpuk-tumpuk itu?". Jawab kancil, "Siapa yang
memakai gelang-gelang ini akan dapat melihat apa yang
sedang terjadi di lagit". Lalu dia menengadah sambil
seolah-olah sedang menikmati pemandangan di atas.
Terbit keinginan harimau untuk dapat juga melihat apa
yang terjadi di langit.

Bukan main gembiranya kancil mendengar permintaan
harimau. Dimintanya harimau duduk di tanah melipat
tangan dan kaki. Lalu dilingkarinya kedua tangan,
kedua kaki dan leher harimau dengan gelang-gelang
rotan sebanyak-banyaknya sehingga harimau tidak dapat
bergerak lagi.

Setelah dirasa cukup, rombongan si kancil berniat
kembali pulang ke rumah, akan tetapi mereka bertengkar
mengenai bagian masing-masing. Mereka berpendapat,
siapa yang berbadan besar akan mendapatkan bagian yang
besar pula. Kancil sebenarnya tidak setuju dengan
usulan tersebut. Lalu dia mencari akal.

Tiba-tiba melompatlah kancil dan memberi tanda ada
marabahaya. Semuanya ketakutan dan terbirit-birit
melarikan diri. Ada yang jatuh tunggang langgang, ada
yang terperosok ke lubang dan ada pula yang tersangkut
akar-akar. Salaipun mereka tinggalkan semua. Hanya
kancil dan kura-kura yang tidak lari. Berdua mereka
pulang dan berjalan berdendang sambil membawa
bungkusan yang sarat.

*******
"Berkat kecerdasan tinggi, yang lemah jadi kuat dan
yang ditindas jadi pemenang".






Labels: Cerita Rakyat, Fabel, Folk Tales, Kalimantan Barat
Gua Keramat


Cerita Rakyat Rembang

Pada zaman dahulu, daerah Rembang Jawa Tengah pernah terjadi kekeringan yang panjang.Sungai-sungai kering. Orang desa berkumpul untuk berunding mencari jalan keluar. Salah satu penduduk mengusulkan agar menemui Kiai Mojo Agung di Tuban. Beliau dikenal sebagai kiai yang saleh.
Akhirnya seluruh penduduk memutuskan untuk memohon bantuan Kiai Mojo Agung. Mereka menyampaikan maksud kedatangan dan Kiai Mojo Agung menyanggupi dan akan datang sendiri ke Rembang.
Pada suatu hari dinantikan, Kiai Mojo Agung datang. Penduduk yang tampak miskin menyambut kedatangan Kiai MojoAgung.Hati Kiai Mojo Agung terharu menyaksikan keadaan penduduk. Lalu ia tancapkan tongkat besi ke tanah. Ia mulai berdoa. Ia berdoa cukup lama. Selesai berdoa, Kiai mengangkat kepalanya memandang berkeliling. Terdengar suaranya berkumandang.
“Akan datang air dan kura-kura.”
Dengan penuh keheranan,rakyat Rembang menyaksikan gunung batu karang tiba-tiba merekah dan dari guamengalir air jernih.Dalam air itu berenang ikan dan kura-kura.Rakyat Rembang berlutut di hadapan kiai.
Rakyat senang dan memanfaatkan air itu.Kiai MojoAgung membuat tandaberupa gambar sebuah gunung pada dinding gua.Hanya air yang keluar dari gua yang boleh dipergunakan.Selesai itu Kiai Mojo Agung memegang tongkatnya lalu pulang ke Tuban.
Hingga saat ini air dalam gua tersebut dianggap keramat oleh penduduk Rembang.Para orangtua menceritakan mukjizat yang dibuat Kiai Mojo Agung demi menolong rakyat Rembang.

Amanat : Sesama manusia kita harus saling menolong karena setiap orang itu saling membutuhkan.Agar masalah yang dihadapi menjadi ringan karena bantuan dari orang.Apabila kita memberi bantuan kepada oranglain maka apabila kita membutuhkan pertolongan,kita akan diberi pertolongan dari orang lain.

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut adalah:
Nilai Religi
Kiai Mojo Agung berdoa kepada ALLAH SWT untuk meminta bantuan agar air datang di daerah Rembang yang sedang mengalami kekeringan.

Nilai Sosial
Kiai Mojo Agung mau membantu penduduk Rembang dalam menghadapi masalah tentang kekeringan.
Nilai Budaya
Masyarakat Rembang menganggap keramat air dalam gua tersebut hingga sampai saat ini.

Sumber : http://sunarno.co.cc/id/?p=44



Labels: Jawa Tengah
Legenda Putri Hijau

Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri
Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran
jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang
Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.

Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma
menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa
“pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu
(Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).

Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran
dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai
membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat
Lhokseumawe, Aceh.

Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke
Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti
diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur.
Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.

Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombanggelombang
yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan
menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.
Lagenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayudi Malaysia.


Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan benteng dari Putri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedangkan sisa meriam,
penjelmaan abang Putri Hijau, dapat dilihat di halaman Istana Maimoon, Medan hingga saat ini.

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=23029



Labels: Sumatera Utara
Legenda Putri Hijau

Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri
Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran
jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang
Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.

Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma
menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa
“pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu
(Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).

Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran
dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai
membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat
Lhokseumawe, Aceh.

Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke
Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti
diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur.
Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.

Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombanggelombang
yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan
menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.
Lagenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayudi Malaysia.


Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan benteng dari Putri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedangkan sisa meriam,
penjelmaan abang Putri Hijau, dapat dilihat di halaman Istana Maimoon, Medan hingga saat ini.

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=23029



Labels: Sumatera Utara
Batu Panjang


(seperti diceritakan ayahandaku untuk pengantar tidurku diwaktu kecil)


Batu panjang sebuah dusun yang terdapat di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi mempunyai legenda menarik tentang nama dusun tersebut.


Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang putri kecil yang tersisih dari kasih sayang keluarganya.Tiap malam sang putri kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Dia selalu minta sepotong ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah di masak untuk santapan makan malam keluarga. Sang putri minta ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek.Minta ke nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu. Kemudian si putri kecil menangis tersedu sedu diatas batu didepan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar.


Sambil menangis dibawah cahaya bulan purnama dia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu maka batu itu tambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, maka dia menyanyi terus:


Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakek ku senang biar nenekku senang.

Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang,

Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.


Akhirnya, sampai tengah malam sang putri benyanyi, tanpa disadarinya ketinggian batu itu mencapai bulan purnama yang bersinar cerah kepadanya seperti memanggilnya pada malam itu dan sang putri menginjakkan kaki ke bulan purnama, sesampai di bulan sang putri menendang batu tersebut dan batu itu roboh memanjang di bukit, maka dinamakanlah batu itu batu panjang.


Sang putri mencapai kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian, maka bagi orang kerinci masa lalu bila memandang bulan purnama, nampak gambar seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.Mengetahui sang putri berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sang putri sepotong ikan di waktu makan malam itu.



Sumber :

http://naizalnorewan.wordpress.com/category/legenda-batu-panjang/



Labels: Jambi