Jumat, 07 Oktober 2011

Legenda Bukit Kelam


Bukit Kelam merupakan salah satu obyek wisata alam yang eksotis di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Bukit yang telah menjadi Kawasan Hutan Wisata ini memiliki panorama alam yang memesona, yaitu berupa pemandangan air terjun, gua alam yang dihuni oleh ribuan kelelawar, dan sebuah tebing terjal setinggi kurang lebih 600 meter yang ditumbuhi pepohonan di kaki dan puncaknya. Dibalik pesona dan eksotisme Bukit Kelam, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Konon, Bukit Kelam dulunya merupakan sebuah rantau.[1] Namun, karena terjadi suatu peristiwa, maka kemudian rantau itu menjelma menjadi Bukit Kelam. Bagaimana kisahnya sehingga rantau itu menjelma menjadi bukit yang indah dan memesona? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Bukit Kelam berikut ini.

* * *

Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka merusak, pendengki dan serakah. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu, apalagi melebihi kesaktiannya. Oleh karena itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama Temenggung Marubai. Sifatnya justru kebalikan dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian utama menangkap ikan, di samping juga berladang dan berkebun.

Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.

Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak.

Mengetahui hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Oleh karena tidak mau kalah, Bujang Beji pun pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba[2]. Dengan cara itu, ia pun mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba lambat laun akan memusnahkan ikan di sungai Simpang Kapuas, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.

”Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram.

Sejenak ia merenung untuk mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.

Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu yang besar itu. Oleh karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.

Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, tanpa disadari, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.

”Aduuuhhh... !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.

Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.

”Awas, kalian! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya yang terkena duri beracun ke salah satu bukit di sekitarnya.

”Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.

Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.

Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu[3] yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.

Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.

Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.

”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.

”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.

”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.

”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.

Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.

Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.

”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”

Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.

”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.

Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.

Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.

* * *

Demikian cerita Legenda Bukit Kelam dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat yang ditimbulkan dari sikap iri hati dan tamak, dan keutamaan sifat suka bermusyawarah untuk mufakat. Sifat iri hati dan tamak tercermin pada sifat dan perilaku Bujang Beji yang hendak menguasai ikan milik Temenggung Marubai yang ada di Sungai Melawi. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa sifat tamak dan serakah dapat menyebabkan seseorang menjadi iri dan dengki. Sifat ini tidak patut dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau orang tak tahu diri,
seumur hidup iri mengiri
apa tanda orang serakah,
berebut harta terbuan tuah

Sementara sifat suka bermusyawarah untuk mufakat terlihat pada perilaku kawanan sampok dan beruang yang berusaha untuk menggagalkan rencana jelek Bujang Beji yang hendak membinasakan dewi-dewi di kayangan. Menurut Tenas Effendy, melalui musyawarah dan mufakat, tunjuk ajar dapat dikembangkan dengan pikiran, ide, atau gagasan yang dapat disalurkan. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:

di dalam musyawarah,
buruk baiknya akan terdedah
di dalam mufakat,
berat ringan sama diangkat



Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari. Anonim. (http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&id=153887, diakses tanggal 12 Mei 2008).
Anonim. “Sintang”, (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 12 Mei 2008).
Anonim. “Rantau”, (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 12 Mei 2008).
Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Melayu Online

[1] Rantau berarti pantai sepanjang teluk (sungai); pesisir (lawan darat).

[2] Menuba artinya meracun ikan-ikan dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan.

[3] Pohon kumpang mambu adalah sejenis kayu raksasa yang ujungnya menjulang tinggi ke angkasa.



Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Kalimantan Barat, Legenda
SEMANGKA EMAS
(CERITA RAKYAT MELAYU SAMBAS)

P ada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin.

Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.

Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.

Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.

Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan.

Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.

Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.

Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.

Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.

Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

diceritakan kembali oleh Hendy Lie

(diolah dari Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat 2, Syahzaman, PT.Grasindo, 1995)





Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Kalimantan Barat
Bawang Merah & Bawang Putih

Bawang Putih yang piatu suatu hari memiliki ibu dan kakak tiri karena ayahnya menikah lagi. Sayang Ibu dan Saudara tirinya bersikap jahat padanya.

*******
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”
“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai.
Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.
Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.
“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.


-------
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/merah_putih.html



Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Jawa Tengah
Putri Yang Menjadi Ular

Di tepi sebuah hutan kecil yang hijau, sebuah danau yang berair jernih berkilau disapa mentari pagi. Permukaannya yang tenang beriak kala sepasang kaki yang indah menyibaknya. Sang pemiliknya adalah seorang putri yang sedang duduk di atas batu besar yang menyembul dari dasar danau. Aduhai alangkah cantiknya ia. Bahkan burung-burung pun terpesona memandangnya. Ialah Putri dari kerajaan di sebuah negeri di wilayah Simalungun yang terkenal amat rupawan. Ialah dambaan dari Puluhan Pangeran dan Putra bangsawan. Dan kini seorang Pangeran dari negeri seberang telah datang untuk meminangnya.

Sepasang ikan meloncat di dekat kakinya membuyarkan lamunannya.
“Ah alangkah bahagianya kedua ikan ini. Mereka pastilah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebentar lagi akupun akan sebahagia mereka,” pikir Putri sambil tersenyum kecil.

Beberapa Dayang yang menemani sang Putri, duduk-duduk di tepi danau memperhatikan tingkah sang Putri yang sebentar-bentar tersipu dan tersenyum malu.
“Lihatlah Tuan Putri kita. Oh ia pasti sedang melamunkan rencana pernikahannya dengan Pangeran dari kerajaan tetangga yang katanya sangat tampan. Setelah puluhan Pangeran yang datang, akhirnya Baginda memutuskan menerima lamaran yang satu ini,” kata salah satu Dayang.
“Kenapa? Apa istimewanya Pangeran itu?” tanya Dayang lainnya.
“Entahlah. Bagaimana aku bisa tahu,” kata Dayang pertama.
“Ayolah! Ceritakan apa yang kau ketahui,” desak Dayang lain.
“Aku juga tidak tahu banyak, “ jawab Dayang pertama yang rupanya Dayang kepercayaan Putri. “Tadi pagi Baginda memanggil Putri menghadap. Katanya utusan Pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Kerajaannya sangat besar dan kuat. Sehingga menurut Baginda, jika lamaran itu ia terima, otomatis akan menyatukan kekuatan kedua negeri.”
“Apakah Tuan Putri langsung menerimanya?” tanya Dayang kedua.
“Ya tentu saja. Putri adalah anak yang berbakti. Ia tahu perkawinan ini akan membawa kebaikan untuk seluruh negeri,” jawab Dayang pertama.
“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada pesta besar donk! Asyiiiiik.,” seru Dayang-dayang.
“Ah, masih lama. Masih dua bulan lagi. Pestanya memang akan besar-besaran, makanya butuh waktu lama untuk mempersiapkannya,” kata Dayang pertama.
“Ya Tuhan. Semoga Tuan Putri selalu bahagia,” doa semua Dayang.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga Tuan Putri supaya tidak ada sesuatu yang akan membatalkan pernikahannya,” kata Dayang pertama disambut anggukan Dayang lainnya.

“Bibi Dayang…!” seru Putri.
Para Dayang segera berlarian menuju Tuan mereka. Mereka membantu Putri membersihkan badan hingga kulitnya semakin tampak menawan. Kemudian mereka mencuci rambutnya yang panjang dan hitam sehingga harum semerbak. Kemudian para Dayang membiarkan Tuan mereka berendam menikmati kesejukan air danau. Memang begitulah kebiasaan Putri, ia tidak pernah cepat-cepat keluar dari air setelah selesai membersihkan badan.

Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menggoyangkan semua pepohonan di pinggir danau. Sebatang ranting yang lumayan besar, patah dan jatuh menimpa wajah Putri tanpa sempat menghindarinya.
“Aaaa…..!” Putri menjerit kesakitan.
Dayang-dayang segera berlarian membantu Putri keluar dari danau. Dari sela jari-jari Putri yang masih menutupi mukanya, mengalir darah segar. Dengan panik mereka berusaha menghentikannya. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari ternyata hidung Putri telah hilang sebelah.
“Cepat ambilkan aku cermin!” perintah Putri.
Dengan ketakutan, mereka segera menyerahkan sebuah cermin.
“Tidaakkk…!” tangis Putri pilu. “Oh Tuhan. Mukaku cacat. Bagaimana aku bisa menikah dengan Pangeran jika mukaku sejelek ini. Ia pasti tidak mau melihatku.”

Putri menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia begitu ketakutan membayangkan kemarahan Pangeran jika ia tahu mempelainya tak secantik yang ia bayangkan. Mungkin negerinya akan diserang, karena dianggap telah berbohong. Atau hal-hal buruk lainnya. Ia tak kuasa membayangkan kesedihan ayah dan bundanya.
“Tuhan, lebih baik kau hukumlah aku. Hilangkanlah aku dari dunia ini. Aku tidak sanggup bertemu kedua orang tuaku lagi, “ ratap Putri.
Petir menyambar diiringi guntur yang menggelegar begitu Putri mengucapkan doanya. Semua yang ada di situ menjerit ketakutan. Mereka semakin ketakutan ketika melihat badan Putri secara perlahan mulai ditumbuhi sisik seperti ular. Dayang pertama segera berlari ke istana untuk memberitahu Raja dan Ratu.
“Apa? Putriku berubah menjadi ular? Bagaimana bisa?” seru Ratu sambil terisak.
“Ayolah kita segera pergi melihatnya. Mungkin kita masih bisa menolongnya,” kata Raja sambil menarik tangan istrinya. Tabib istana pun tanpa disuruh ikut berlari di belakang Raja.

Sesampainya di danau, Putri sudah tidak tampak lagi. Tinggal para dayang yang masih menangis keras mengerumuni seekor ular besar yang bergelung di atas batu besar.
“Putriku…?” seru Ratu shock.
Ular besar itu menoleh dan menjulurkan lidahnya. Dari kedua matanya mengalir air mata. Pandangannya begitu memilukan seolah-olah hendak mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
“Putri. Apa yang terjadi nak?” tangis Raja dan Ratu.
“Cepat tolong dia tabib!” seru Raja.
Namun Ular besar itu menggelengkan kepalanya dan segera meninggalkan mereka menuju hutan. Betapapun kerasnya Raja dan Ratu memanggilnya, Putri yang malang itu tetap menghilang ditelan hutan. Sejak itu Putri tidak pernah kembali. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mengucapkan doa yang baik dan selalu berpikir tenang. Karena bagaimana seandainya kita terlanjur mengucapkan doa yang buruk dan kemudian dikabulkan? Mengerikan bukan?
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/Dong%20Bocah/putriular.html



Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Sumatera
Nyi Mas Belimbing

Mitos dari Jawa Barat

Suatu pagi di pertapaan Ujung Kulon Banten. Sinar matahari yang cerah di sela dedaunan tidak mampu menyaput mendung di wajah Nyi Mas Belimbing. Sudah seminggu ini Nyi mas terlihat murung. Hal ini membuat Resi Rarata sang ayah bingung. Akhirnya karena penasaran, Resi Rarata pun bertanya:
"Nyi mas, apa yang mengganggu pikiranmu? Kenapa akhir-akhir ini kamu tampak murung. Apakah ayah bisa membantu?"
Nyi mas belimbing hanya mendesah dan menundukkan kepalanya. Tapi setelah sekian lama terdiam, akhirnya Nyi Mas menjawab:
"Ayah, apakah ayah percaya pada mimpi?"
"Ah ternyata mimpi yang mengganggu pikiranmu." kata sang resi, "Tentu saja, kadang-kadang mimpi juga bisa merupakan pertanda. Apakah mimpimu nak?"
"Aku bermimpi bertemu dengan seorang pemuda tampan dan kami jatuh cinta. Dia bernama Sunan Gunung Jati dan berasal dari Cirebon," kata Nyi mas, "Ayah, bolehkah aku pergi menemuinya? Mungkin dia adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku?"
Sang resi berpikir sebelum akhirnya berkata:
"Nyi mas, ayah mengerti perasaanmu. Tapi, tidak baik seorang putri pergi menemui laki-laki," kata Resi, "Sabarlah dan berdoalah! Jika dia memang jodohmu, kalian pasti akan dipertemukan."

Rupanya jawaban Resi Rarata tidak sesuai dengan harapan Nyi mas Belimbing. Dia merasa kecewa, karena sang ayah tidak meluluskan keinginannya. Tapi Nyi mas tidak berani membantah kata-kata ayah yang sangat dicintainya itu. Maka dia pun berusaha melupakan impiannya.
Namun semakin berusaha melupakan, semakin kuat pula keinginannya untuk pergi menemui Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Hingga suatu pagi, Nyi mas Belimbing nekat pergi dari pertapaan, meninggalkan sang resi yang masih tertidur lelap.

Sementara itu, kepergian Nyi mas belimbing juga membuat resah Ki Pandan Alam yang sudah lama menaruh hati pada Nyi mas. Dia tidak rela gadis pujaannya menjadi milik orang lain. Maka tanpa berpikir panjang Ki Pandan Alam pun memutuskan untuk menyusul Nyi Mas Belimbing ke Cirebon.
Setelah menempuh setengah perjalanan, akhirnya Ki pandan bisa menyusul Nyi mas Belimbing. Ki pandan mencoba membujuk Nyi Mas Belimbing untuk mengurungkan niatnya yang tentu saja ditolak oleh Nyi Mas Belimbing. Ki Pandan Alam yang marah mulai menggunakan kekerasan untuk memaksa Nyi Mas Belimbing, namun Nyi Mas tetap menolak. Maka pertempuran pun tak terelakkan. Ki Pandan Alam kalah.

Ki Pandan Alam yang malu dan marah atas kekalahannya, mengadu kepada ayahnya, Sang Hyang Tenggulung.
"Ayah, kau harus menolongku untuk membalas kekalahanku ini," pintanya.
"Jangan khawatir, ayah punya jalan keluar untuk meyelesaikan masalahmu," kata sang Hyang.
"Bagaimana caranya ayah?" tanya Ki Pandan Alam.
"Begini. Ayah akan membuatmu tampak seperti Sunan Gunung Jati, sehingga Nyi Mas Belimbing akan mengira bahwa engkau adalah pemuda yang dicarinya," kata Sang Hyang.

Dengan satu kali jentikkan, Ki Pandan Alam pun berubah wujud menjadi Sunan Gunung Jati. Segera Ki pandan alam menyusul Nyi Mas Belimbing yang sudah hampir sampai di Cirebon. Tanpa curiga Nyi Mas Belimbing yang memang sangat ingin bertemu dengan Sunan Gunung Jati, menerima kehadiran Ki Pandan Alam, dan bersedia untuk dinikahinya. Mereka pun tinggal di cirebon untuk beberapa waktu lamanya.
Namun ternyata penyamarannya kemudian terbongkar, maka Ki Pandan Alam pun dihukum untuk menebus kesalahannya. Tinggalah Nyi Mas Belimbing yang kecewa dan sedih karena merasa telah tertipu. Dia malu untuk kembali ke pertapaan, juga takut karena telah melanggar perintah ayahnya. Akhirnya karena rasa malu itu Nyi Mas Belimbing pun mengakhiri hidupnya.

Anehnya, setelah beberapa bulan kemudian, dari kuburannya terdengar suara tangis bayi. Hal itu tentu saja membuat masyarakat yang tinggal di sekitar situ ketakutan. Beberapa dari mereka kemudian melaporkan kejadian itu kepada Sunan Gunung Jati yang segera memerintahkan untuk membongkar kuburan Nyi Mas Belimbing.
Benar saja, ternyata di dalam kuburan itu ada seorang bayi laki-laki mungil. Sunan Gunung Jati menamainya Cikal dan mengangkatnya menjadi putranya.
Konon, setelah besar, Cikal ini sering mengembara dan pernah bertemu dengan Nabi Khaidir. Karena sangat cerdas, maka nabi Khaidir mengangkatnya menjadi murid. Dia ikut mengembara bersama Nabi Khaidir dan tidak pernah kembali ke Cirebon.

Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/belimbing1.html



Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Jawa Barat, Mit
Putri Tadampalik

Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita.

Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia.

Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya.

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu.

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo.

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.

Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mongering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule. Suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik.

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Keinginan pangeran Bone itu tidak main-main. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone. Maka Datu Luwu menerima pinangan pangeran Bone.

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/putri_tadampalik.html



Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Sulawesi Tengah
Prabu Panggung Keraton

Kerajaan Dayeuh Manggung Masanggrahan adalah sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja bernama Prabu Panggung Keraton. Meski kecil namun kerajaan ini sangat makmur dan rakyatnya terjamin kesejahteraannya. Sang prabu memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik bernama Putri Rarang Purbaratna. Masyarakat Dayeuh Manggung meyakini bahwa Putri mereka adalah titisan bidadari karena Putri Rarang Purbaratna memiliki paras yang sangat jelita. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Rambutnya sehitam malam dan panjang bak mayang terurai. Tubuhnya tinggi semampai dan dipercantik dengan kulit yang seperti mutiara. Matanya bening dan selalu berbinar seperti bintang. Alisnya hitam melengkung seperti busur. Hidungnya mancung dan bibirnya semerah delima. Kecantikannya semakin sempurna dengan sikap sang putri yang baik hati dan selalu menebar senyumnya yang menawan.

Namun prabu Panggung Keraton sangat khawatir karena hingga usianya yang sudah menginjak remaja, putri Rarang Purbaratna belum juga mendapatkan jodoh. Maka suatu hari prabu Panggung Keraton memanggil adik kesayangannya.
"Rayi putri, ada yang ingin kakang tanyakan kepada Rayi. Hal ini menyangkut masa depan Rayi. Dan kakang harap rayi mau berterus terang pada kakang," kata sang prabu.
"Mengenai apa kakang? " tanya putri.
"Rayi...Rayi sekarang sudah remaja. Dsn kakang merasa sudah saatnya rayi mendapatkan jodoh. Kalau kakang boleh tahu, sudahkah ada pemuda pilihan hatimu?" tanya prabu.
"Ampun kakang. Rayi memang sudah lama memikirkan hal ini, namun memang rayi belum tahu siapa yang akan menjadi jodoh rayi. Bagi rayi tidak soal siapa yang akan menjadi pendamping rayi. Asalkan dia bisa memenuhi persyaratan rayi, maka rayi akan menerimanya apa adanya." tutur putri.
"Hmmm...persyaratan apa rayi?" tanya prabu.
"Syaratnya hanyalah menjelaskan teka-teki dari rayi!" kata putri.
"Apa bunyi teka-tekinya?" tanya prabu.
"Begini:
Teras kangkung hati bitung
Bekas itik dalam lubuk
Bekas angsa pada bantar
Bekas semut di atas batu
Daun padi kering menjarum
Sisir kecil tanduk kucing
Siisr besar tanduk kuda
Kemben layung kasunten
Berhiaskan bianglala
Tulis langit gurat mega
Panjangnya seputar jagat
Intan sebesar buah labu...

Begitulah bunyinya" kata putri.

Keesokan harinya prabu Panggung Keraton mengirim ratusan utusan yang disebar ke seluruh negeri, bahkan juga ke negeri-negeri yang jauh.

Maka tidak berapa lama halaman istana sudah dipenuhi ribuan pemuda dan bahkan pria-pria tua yang ingin mengikuti sayembara. Sayang tidak satupun dari mereka yang bisa memecahkan teka-teki tersebut.

Beberapa hari kemudian banyak raja-raja dari negeri tetangga yang sudah mendengar mengenai kabar kecantikan putri Rarang Purbaratna mulai berdatangan. Namun mereka juga gagal. Salah seorang raja yang juga gagal bernama prabu Gajah Menggala dari kerajaan Kuta Genggelang. Prabu Gajah Manggala sangat kecewa dengan kegagalannya. Dia bersumpah akan menyerang kerajaan Dayeuh Manggung jika suatu hari nanti putri Rarang Purbaratna menemukan jodohnya.

Sementara itu Pangeran Munding Larik dari kerajaan Pakuan Pajajaran yang sudah berhari-hari mengembara di lautan, tanpa sengaja terdampar di kerajaan Dayeuh Manggung. Pangeran Munding Larik adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah. Dia melakukan pengembaraan dalam rangka menambah wawasan dan pengalaman sebelum dia naik tahta menggantikan ayahandanya yang sudah sepuh. Selain itu ibundanya juga berharap pangeran Munding Larik akan menemukan jodoh di perjalanannya itu. Ayahandanya membekali pangeran Munding Larik dengan sebuah gambar bernama Nusa Tiga Puluh Tiga - Bengawan Sewidak Lima, menurutnya di sanalah nanti pangeran Munding Larik akan bertemu jodoh. Pangeran juga dibekali dengan sebuah senjata bernama Senjata Sejuta Malang dan sebilah keris bernama Keris Gagak Karancang.

Pangeran dengan ditemani patihnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan lewat daratan. Setelah berjalan jauh akhirnya mereka sampai di sebuah dataran tinggi. Iseng-iseng pangeran membuka gambar yang diberikan ayahnya. Alangkah terkejutnya karena ternyata daerah tersebut sama persis dengan gambar yang dipegangnya. Maka pangeran dan para pengikutnya memutuskan untuk menemui raja negeri tersebut.

Prabu Panggung Keraton dengan senang hati menerima kedatangan Pangeran Munding Larik. Dijelaskannya bahwa negeri tersebut sedang mengadakan sayembara untuk mendapatkan adik semata wayangnya. Pangeran Munding Larik memutuskan untuk ikut sayembara tersebut dan ternyata bisa memecahkan teka-teki sang putri dengan mudah.
"Artinya bahwa setiap ilmu kesejahteraan adalah jalan menuju keselamatan. Itulah yang dinamakan kehampaan sejati. Yang berarti asal yang sejati dan kehidupan yang sejati. Siapa pun yang sudah memahami hal tersebut, maka tentunya akan bertemu dengan kesejahteraan dan keselamatan. Dan itulah yang disebut dengan kesempurnaan sejati," tutur pangeran Munding Larik.

Karena pangeran berhasil menebak arti teka-teki tersebut, maka pangeran Munding Lariklah yang memenangkan sayembara tersebut dan berhak mempersunting putri Rarang Purbaratna. Maka segeralah digelar pesta pernikahan besar-besaran. Seluruh rakyat negeri Dayeuh Mangung menyambut gembira dan ikut berpesta di istana.

Tidak demikian halnya dengan para raja yang gagal mempersunting putri Rarang Purbaratna. Salah satunya prabu Gajah Menggala. Dia berniat melaksanakan sumpahnya untuk mengganggu ketentraman negri Dayeuh Manggung. Dia lalu pergi ke Goa Jotang untuk menemui siluman Jonggrang Kalapitung yang terkenal sakti dan memintanya untuk menculik putri Purbaratna.

Tentu saja itu adalah hal mudah bagi siluman tersebut. Dengan mudah dia menemukan kamar putri Rarang Purbaratna yang saat itu sedang tertidur pulas. Namun begitu melihat kecantikan sang putri, Jonggrang Kalapitung jatuh hati. Alih-alih menculik sang putri untuk dibawa ke tempat prabu Gajah Menggala, Jonggrang Kalapitung malah menyembunyikannya.

Prabu Panggung Keraton sangat marah mengetahui adiknya diculik. Dia mengutus patihnya untuk menemui prabu Gajah Menggala yang diyakini sebagai dalang penculikan adiknya. Namun patihnya malah menemui ajal di tangan prabu Gajah Menggala. Maka prabu Panggung Keraton memutuskan untuk menghadapinya sendiri. Maka berangkatlah ia ke negeri Kuta Genggaleng.

Saat bertemu mereka pun bertarung. Keduanya sama-sama sakti. Berbagai jurus dan ilmu mereka keluarkan. Akhirnya menjelang sore, prabu Gajah menggala yang sudah kelelahan dapat dikalahkan oleh prabu Panggung Keraton. Dengan ketakutan Prabu Gajah Menggala memohon ampun dan berjanji akan mengembalikan putri Rarang Purbaratna. Maka dia pun segera menemui Jonggrang Kalapitung dan membawa kembali putri Rarang Purbaratna ke negerinya.

Namun rupanya Jonggrang Kalapitung yang sudah jatuh hati masih menyimpan rasa sukanya kepada putri Rarang Purbaratna. Maka beberapa bulan kemudian saat sang putri sedang hamil tua, Jonggrang Kalapitung kembali menculiknya. Namun di perjalanan putri Rarang Purbaratna melahirkan bayi kembar, sehingga Jonggrang Kalapitung memutuskan untuk merubah dirinya menjadi ular besar lalu menelan sang putri dan meninggalkan bayi kembarnya di tengah hutan.

Prabu Panggung Keraton yang menyusul menemukan kedua bayi kembar tersebut. Ajaib sekali, meski masih bayi mereka sudah bisa berlari-lari sehingga sang prabu pun maklum bahwa mereka bukan bayi sembarangan. Maka mereka bertiga pun segera mengejar ular besar yang menelan putri Rarang Purbaratna. Setelah melalui perkelahian yang sangat seru, Jonggrang Kalapitung pun tewas tertebas keris pusaka prabu Panggung Keraton.

Akhirnya mereka berhasil mengeluarkan putri Rarang Purbaratna yang ternyata masih hidup dan kembali ke negeri Dayeuh Manggung. Dan mereka pun hidup berbahagia.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/panggung_kraton.html




Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Jawa Barat, Legenda